Rabu, 07 September 2011

PROSESI PERNIKAHAN ADAT BUDAYA BATAK DAN UMPASANYA


Pernikahan Adat Batak




Dalam Budaya Batak kental sekali dengan Adat Istiadatnya. Berdasarkan pada Dalihan Na Tolu. Bila Orang Batak mengadakan suatu acara baik acara ucapan Syukur, Kematian, Menempati Rumah Baru, Mangapuli, Pernikahan, Kelahiran Anak dan lain-lain selalu diadakan acara adat, merupakan budaya yang tujuannya adalah positif dan menjauhkan hal-hal yang negatif dan banyak tujuan lainnya tergantung dan sesuai dengan acara yang dilakukan. Salah satunya adalah Adat Pernikahan. Adapun langkah-langkah yang harus dilakukan adalah sebagai berikut :



1. Mangarisika
2. Marhori-hori Dinding/marhusip
3. Marhata Sinamot
4. Pudun Sauta..
5. Martumpol
6. Martonggo Raja atau Maria Raja.
7. Manjalo Pasu-pasu Parbagason (Pemberkatan Pernikahan)
8. Pesta Unjuk (lihat detail)
9. Mangihut di ampang
10. Ditaruhon Jual.
11. Paranak makan bersama di tempat kediaman si Pria (Daulat ni si Panganon)
12. Paulak Unea..
13. Manjahea.
14. Maningkir Tangga

Penjelasan :

‎1. Mangarisika
Adalah kunjungan utusan pria yang tidak resmi ke tempat wanita dalam rangka penjajakan. Jika pintu terbuka untuk mengadakan peminangan maka pihak orang tua pria memberikan tanda mau (tanda holong dan pihak wanita memberi tanda mata). Jenis barang-barang pemberian itu dapat berupa kain, cincin emas, dan lain-lain.

2. Marhori-hori Dinding/marhusip
Pembicaraan antara kedua belah pihak yang melamar dan yang dilamar, terbatas dalam hubungan kerabat terdekat dan belum diketahui oleh umum.

3. Marhata Sinamot
Pihak kerabat pria (dalam jumlah yang terbatas) datang oada kerabat wanita untuk melakukan marhata sinamot, membicarakan masalah uang jujur (tuhor).

4. Pudun Sauta
Pihak kerabat pria tanpa hula-hula mengantarkan wadah sumpit berisi nasi dan lauk pauknya (ternak yang sudah disembelih) yang diterima oleh pihak parboru dan setelah makan bersama dilanjutkan dengan pembagian Jambar Juhut (daging) kepada anggota kerabat, yang terdiri dari :

Kerabat marga ibu (hula-hula)
Kerabat marga ayah (dongan tubu)
Anggota marga menantu (boru)
Pengetuai (orang-orang tua)/pariban
Diakhir kegiatan Pudun Saut maka pihak keluarga wanita dan pria bersepakat menentukan waktu
Martumpol dan Pamasu-masuon.


5. Martumpol
Penanda-tanganan persetujuan pernikahan oleh orang tua kedua belah pihak atas rencana perkawinan anak-anak mereka dihadapan pejabat gereja. Tata cara Partumpolon dilaksanakan oleh pejabat gereja sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Tindak lanjut Partumpolon adalah pejabat gereja mewartakan rencana pernikahan dari kedua mempelai melalui warta jemaat, yang di HKBP disebut dengan Tingting (baca : tikting). Tingting ini harus dilakukan dua kali hari minggu berturut-turut. Apabila setelah dua kali tingting tidak ada gugatan dari pihak lain baru dapat dilanjutkan dengan pemberkatan nikah (pamasu-masuon).

6. Martonggo Raja atau Maria Raja
Adalah suatu kegiatan pra pesta/acara yang bersifat seremonial yang mutlak diselenggarakan oleh penyelenggara pesta/acara yang bertujuan untuk :

Mempersiapkan kepentingan pesta/acara yang bersifat teknis dan non teknis.
Pemberitahuan pada masyarakat bahwa pada waktu yang telah ditentukan ada pesta/acara pernikahan dan berkenaan dengan itu agar pihak lain tidak mengadakan pesta/acara dalam waktu yang bersamaan. Memohon izin pada masyarakat sekitar terutama dongan sahuta atau penggunaan fasilitas umum pada pesta yang telah direncanakan.

7. Manjalo Pasu-pasu Parbagason (Pemberkatan Pernikahan)
Pengesahan pernikahan kedua mempelai menurut tatacara gereja (pemberkatan pernikahan oleh pejabat gereja). Setelah pemberkatan pernikahan selesai maka kedua mempelai sudah sah sebagai suami-istri menurut gereja. Setelah selesai seluruh acara pamasu-masuon, kedua belah pihak yang turut serta dalam acara pamasu-masuon maupun yang tidak pergi menuju tempat kediaman orang tua/kerabat orang tua wanita untuk mengadakan pesta unjuk. Pesta unjuk oleh kerabat pria disebut Pesta Mangalap parumaen (baca : parmaen)
8. Pesta Unjuk
Suatu acara perayaan yang bersifat sukacita atas pernikahan putra dan putri. Ciri pesta sukacita ialah berbagi jambar :
Jambar yang dibagi-bagikan untuk kerabat parboru adalah jambar juhut (daging) dan jambar uang (tuhor ni boru) dibagi menurut peraturan. Jambar yang dibagi-bagikan bagi kerabat paranak adalah dengke (baca : dekke) dan ulos yang dibagi menurut peraturan. Pesta Unjuk ini diakhiri dengan membawa pulang pengantin ke rumah paranak.

9. Mangihut di ampang (dialap jual)
Yaitu mempelai wanita dibawa ke tempat mempelai pria yang dielu-elukan kerabat pria dengan mengiringi jual berisi makanan bertutup ulos yang disediakan oleh pihak kerabat pria.

10. Ditaruhon Jual
Jika pesta untuk pernikahan itu dilakukan di rumah mempelai pria, maka mempelai wanita dibolehkan pulang ke tempat orang tuanya untuk kemudian diantar lagi oleh para namborunya ke tempat namborunya. Dalam hal ini paranak wajib memberikan upa manaru (upah mengantar), sedang dalam dialap jual upa manaru tidak dikenal.

11. Paranak makan bersama di tempat kediaman si Pria (Daulat ni si Panganon)

Setibanya pengantin wanita beserta rombongan di rumah pengantin pria, maka diadakanlah acara makan bersama dengan seluruh undangan yang masih berkenan ikut ke rumah pengantin pria.
Makanan yang dimakan adalah makanan yang dibawa oleh pihak parboru


12. Paulak Unea
Setelah satu, tiga, lima atau tujuh hari si wanita tinggal bersama dengan suaminya, maka paranak, minimum pengantin pria bersama istrinya pergi ke rumah mertuanya untuk menyatakan terima kasih atas berjalannya acara pernikahan dengan baik, terutama keadaan baik pengantin wanita pada masa gadisnya (acara ini lebih bersifat aspek hukum berkaitan dengan kesucian si wanita sampai ia masuk di dalam pernikahan).
Setelah selesai acara paulak une, paranak kembali ke kampung halamannya/rumahnya dan selanjutnya memulai hidup baru.


13. Manjahea.
Setelah beberapa lama pengantin pria dan wanita menjalani hidup berumah tangga (kalau pria tersebut bukan anak bungsu), maka ia akan dipajae, yaitu dipisah rumah (tempat tinggal) dan mata pencarian.

14. Maningkir Tangga
Beberapa lama setelah pengantin pria dan wanita berumah tangga terutama setelah berdiri sendiri (rumah dan mata pencariannya telah dipisah dari orang tua si laki-laki) maka datanglah berkunjung parboru kepada paranak dengan maksud maningkir tangga (yang dimaksud dengan tangga disini adalah rumah tangga pengantin baru). Dalam kunjungan ini parboru juga membawa makanan (nasi dan lauk pauk, dengke sitio tio dan dengke simundur-mundur)

UMPASA ADAT PERNIKAHAN

Ulos Hela DiPamasu-Masuon
Di na mangulosi didokma umpasa, ima mangido tu Debata denggan ni ngolu dohot tondi, hasadaon sahat tu na mate. Tingki mangulosi didokma :


Napuran di bagas tagan
Ulos di bagas tondi
Hami mangulosi badan
Debata mangulosi tondi


Pihak parboru/hula-hula mangulosi huhut mandok umpasa, asa jadi keluarga bahagia, tubuan anak tubuan boru jala tetap sada sadhat tu na saur matua.


Di ginjang do arirang
Di toru panggaruan
Unang di hatai sirang
Molo dung marhajabuan


Boras sipirni tondi
Binuat sian piring
Debata ma na manggohi
Tuhan Jesus ma mangiring-iring


Binahen pe umpasa
Nidok pasu-pasuan
Tangiang mai tu Debata
Asa denggan hamu di hangoluan

Pribadi na beda
Pinadomu gabe sada
SAling setia porlu dijaga
Asa denggan di ruma tangga


pasu-pasuan dihatahon marhita umpasa :
Ima pangelehan tu Debata
jong-jong rumah ijuk
Mandompakhon rumah gorga
Sai tubu anak na bisuk
Dohot boru na malo marroha


Sahat-sahat ni solu
Sai sahat ma tu bottean
Sai sahat sude hita mangolu
Sai sahat ma hita tu panggabean, sahat tu parhorasan



sumber : http://www.facebook.com/note.php?note_id=136553353095643

Senin, 05 September 2011

Horong Marga-Marga Parna

SIMBOLON TUA


1. Simbolon Tuan Nahoda Raja
2. Tinambunan
3. Tumanggor
4. Pasi
5. Maharaja
6. Turuten
7. Pinayungan
8. Nahampun
9. Simbolon Altong Nabegu
10. Simbolon Pande Sahata
11. Simbolon Juara Bulan
12. Simbolon Suhut Ni Huta
13. Simbolon Rimbang
14. Simbolon Hapotan
15. Ginting Tumangger (Tumanggor di Karo)



TAMBA TUA


1. Tamba
2. Siallagan
3. Turnip
4. Sidabutar
5. Gusar (keturunan Sijabat - Padan Sitanggang)
6. Sijabat
7. Saragi Dajawak (Sijabat di Simalungun)
8. Ginting Jawak (Sijabat di Karo)
9. Siadari
10. Sidabalok
11. Rumahorbo
12. Napitu
13. Sitio
14. Sidauruk



SARAGI TUA


1. Simalango
2. Saing
3. Simarmata
4. Nadeak
5. Sumbayak
6. Sidabukke (sudah tidak mengikuti "punguan" parna karena sudah saling marsiolian)



MUNTHE TUA

1. Sitanggang bau
2. Sitanggang lipan
3. Sitanggang upar
4. Sitanggang silo
5. Manihuruk
6. Sigalingging
7. Garingging
8. Tendang
9. Banuarea
10. Boang Manalu
11. Bancin
12. Bringin
13. Gajah
14. Brasa
15. Manik Kecupak
16. Saraan
17. Kombih
18. Berampu
19. Munthe
20. Haro
21. Siambaton
22. Saragi Damunte
23. Dalimunthe
24. Ginting Baho,
25. Ginting Beras,
26. Ginting Capa,
27. Ginting Guru Putih,
28. Ginting Jadibata,
29. Ginting Manik,
30. Ginting Munthe,
31. Ginting Pase,
32. Ginting Sinisuka,
33. Ginting Sugihen,

* Namun ini masih membutuhkan penyempurnaan yang lebih lagi terutama marga Ginting yang belum seluruhnya diketahui dari horong mana saja.

Tuan Sorimangaraja

Tuan sorimangaraja adalah putera pertama dari raja Isomban.
putra raja Isomban dialah satu2nya yang tinggal si pusuk buhit
( di tanah batak ) istrinya ada 3 orang ya itu...
1. Siboru Anting Malela ( Nai Rasaon ) putri dari guru Tatea Bulan

2. Siboru Buding Laut ( Nai Ambaton ) juga putri dari guru Tatea Bulan

3. Siboru Sunggul Boamasan ( Nai Suanon )

Siboru Anting Malela melahirkan putra yang bernama Tuan Sorba Djulu ( ompu raja nabolon )
gelar Nai Ambaton.

Siboru Buding Laut melahirkan putra yg bernamaTuan Sorba Jae ( raja mangerak )
gelar Nai Rasaon.

Siboru Sunggul Haomasan melahirka putra yg bernama Tuan Sorbadibanua, gelar Nai Suanon,
Nai Ambaton,( Tuan Sorba Djulu / ompu raja nabolon )

Nama ( gelar ) putra sulung Tuan Sorimangaraja lahir dari istri pertamanya,
yang bernama Nai Ambaton , nama sebenarnya adalah Ompu Raja Nabolon.
tetapi nsampai sekarang keturunannya bermarga Nai Ambaton menurut ibu leluhurnya.

Nai Ambaton memiliki 4 orang putra yaitu..

1. Simbolon Tua, keturunannya bermarga Simbolon.
2. Tamba Tua, keturunannya bermarga Tamba
3. Saragi tua, keturunannya bermarga Saragi.
4. Munte Tua   keturunannya bermarga Munte, ( Munte,Nai Munte,atau Dalimunte ).

Dari ke 4 marga pokok tersebut, lahir marga2 cabang seprti berikut ( menurut buku"tarombao margani suku batak keterangan w hutagalung )

SIMBOLON lahir marga2 Tinambunan,Tumanggor,Maharaja,Turutan,Nahampun,Pinayungan,
juga marga2 berampu dan pasi.

TAMBA lahir marga3 Siallagan,Tomok,Sidabutar,Sijabat,Gusar,Siadari,Sidabalok,Rumahorbo,Naoitu.

SARAGI lahir marga2 Simalango,Saing,Simarmata,Nadeak,Sidabungke.

MUNTE lahir marga2 Sitanggang,Sidauruk,Manihuruk,Turnip,Sitio,Sigalingging

Keterangan lain mengatakan Bahwa Nai Ambaton mempunyai 2 orang putra, yaitu Simbolon Tua
dan Sigalingging,

SIMBOLON TUA mempunyai 5 orang putra yaitu Simbolon,Tamba,Saragi,Munte dan Nahampun.

Walaupun keturunan Nai Ambaton sudah terdiri dari berpuluh-puluh marga dan sampai nsekarang sudah terdiri dari 20 sudut ( generasi ) mereka masih mempertahankan Ruhut Bongbong, yaitu
peraturan yg melarang perkawinan antar sesama marga keturunan Nai Ambaton.


data tambahan sekaligus pembanding
(Menurut buku "Pustaha Batak" by WM. Hutagalung): Boru ni Guru Tatea Bulan 0pat, ima : 1. si Boru Paromas atau si Boru Anting-anting (Anting Malela !? red.) dan goar hatungganeon tu Tuan Sori Mangaraja "Nai Ambaton"; 2. si Boru Pareme gabe tunggane ni ibotona Saribu Raja; 3. si Boru Biding Laut goar hatungganeon tu Tuan Sori Mangaraja "Nai Rasaon"; 4. Nai Tinjo (Dang olo muli)