Pertunjukan tarian boneka Sigale-gale sudah sangat langka. Jumlah
boneka Sigale-gale pun konon tinggal beberapa saja. Tidak gampang
membuatnya. Ada kepercayaan di masyarakat Batak bahwa pembuat boneka
Sigale-gale harus menyerahkan jiwanya pada boneka kayu buatannya itu
agar si boneka bisa bergerak seperti hidup. Bagaimana pertunjukan
mistis ini bisa sampai melekat dalam masyarakat Batak? Untunglah sampai
hari ini Sigale-gale belum punah sama sekali. Masih ada beberapa sisa
patung yang dipahat puluhan tahun silam. Kita masih bisa menyaksikan
sisa-sisa kemunculannya meski sangat jarang.
Jika mau menonton langsung
pertunjukan tradisional dari Tanah Batak itu, pergilah ke Samosir.
Kabarnya ada empat tempat yang dapat mempertontonkannya di sana. Dua di
antaranya yang mudah dijangkau adalah tempat wisata Tomok dan Museum
Hutabolon Simanindo. Pengunjung dapat memesan langsung pertunjukan
Sigale-gale dengan bayaran tertentu. Pengunjung yang ingin menontonnya
pun tidak dibatasi dari jumlah dan usia. Terkadang dua tiga orang yang
tertarik, seperti turis mancanegara, dapat meminta kepada pengusaha
pertunjukan untuk segera memainkannya dengan iringan musikal gondang
Batak dan delapan sampai sepuluh penari pengiringnya. Rombongan
anak-anak sekolah pun sering berkunjung ke Samosir untuk menyaksikan
Sigale-gale dalam durasi tertentu dari pilihan-pilihan repertoar
musiknya. Repertoar di dua tempat tersebut dapat membosankan jika
melebihi satu jam. Apalagi sekarang musik pengiringnya sudah sering
menggunakan rekaman kaset audio (playback).
Suasana pertunjukan tarian
boneka Sigale-gale memang sangat menarik dan menghibur. Bayangkan,
sebuah boneka yang terbuat dari kayu dapat menari seperti manusia.
Kelihatannya memang seperti manusia jika semakin diperhatikan. Boneka
yang tingginya mencapai satu setengah meter tersebut diberi kostum
tradisonal Batak. Bahkan semua gerak-geriknya yang muncul selama
pertunjukan menciptakan kesan-kesan dari contoh model manusia. Kepalanya
bisa diputar ke samping kanan dan kiri, mata dan lidahnya dapat
bergerak, kedua tangan bergerak seperti tangan-tangan manusia yang
menari serta dapat menurunkan badannya lebih rendah seperti jongkok
waktu menari. Padahal semua gerakan itu hanya di atas peti mati, tempat
disimpannya boneka Sigale-gale seusai dipajang atau dimainkan. Kenapa
itu bisa terjadi? Tentu dua tiga orang dalangnya ada di belakang dengan
menarik jalur-jalur tali secara anatomis. Dalang Legendaris Dulu,
Sigale-gale sempat dimainkan hanya oleh satu orang dalang. Dalang
terakhir yang terkenal adalah Raja Gayus Rumahorbo dari kampung Garoga,
Tomok. Beliau pernah tampil pada festival Sigale-gale di Pematang
Siantar (Simalungun) pada tahun 1930-an. Malahan, kabarnya Sigale-gale
yang dimainkannya waktu itu adalah hasil buatannya sendiri. Raja Gayus
dikenal mampu membuat Sigale-gale mengeluarkan airmata dan punya
kemampuan mengusapkan ulos (kain tenunan Batak) yang disandangkan
sebelumnya di bahu sang boneka kayu. Airmata yang keluar tentu saja air
yang mengalir dari bagian kepala Sigale-gale yang dilubangi. Namun
bagaimana teknis mengeluarkannya masih sulit dibayangkan, karena
biasanya diisi dengan kain lap basah atau wadah kecil yang muat di
bagian yang berlubang itu.
Pewaris Raja Gayus Rumahorbo mengatakan,
Sigale-gale yang dimainkan pada festival itu kini berada di Belanda.
Satu boneka lagi, masih menurut pewarisnya, terdapat di Jakarta. Memang
Museum Nasional di bagian khusus kebudayaan Batak pernah
diinformasikan menyimpan patung Sigale-gale. Rayani Sriwidodo Lubis
melahirkan sebuah buku ceritanya berjudul Sigale-gale (PT Dunia Pustaka
Jaya, 1982) diperkirakan mendapat inspirasi setelah melihat patung
yang ada di museum itu. Mistik di Balik Pembuatan Sigale-gale Kisah
pembuatan patung Sigale-gale masih lestari di kampung Garoga. Kampung
ini berjarak sekitar tiga kilometer dari Tomok, dan naik ke arah kiri
yang dibentengi pegunungan Samosir. Gunung sekitar itu dikenal dengan
nama Naboratan yang dapat berarti “sangat berat”. Ada satu air terjun,
yang dalam bahasa setempat disebut dengan nama Sampuran Simangande. Air
terjun yang konon menyimpan batu-batuan aneh dan posisi gunung seperti
tembok yang sangat tinggi itu sempat menambahi kesan lebih jauh
tentang kampung yang dikenal masih menyimpan patung Sigale-gale itu.
Ternyata suasana alam yang melatarbelakangi kampung Garoga sama sekali
tidak ada kaitannya dengan munculnya patung Sigale-gale. Setidaknya
dalam kaitan bahan-bahan seperti kayu dan upacara tertentu untuk patung
Sigale-gale.
Kampung Garoga juga tak bisa dipastikan sebagai setting
cerita Sigale-gale. Kampung ini hanyalah salah satu kampung selain
kampung Siallagan atau Ambarita. Malahan informasi tentang sebuah
patung Sigale-gale pernah ada dari sekitar Silimbat Porsea. Hari itu,
di teras sebuah rumah yang berarsitek modern, kami diperlihatkan pada
dua unit Sigale-gale yang sudah berumur 30 dan 70 tahun. Salah seorang
keturunan Raja Gayus menyambut kedatangan kami dengan minuman
tradisional tuak dan natinombur (ikan panggang dengan racikan sambal
khas Batak). Beberapa orang pemusik sudah siap-siap di posisi belakang
terletaknya kedua Sigale-gale itu dengan instrumen selengkapnya.
Sekitar setengah jam mereka memainkan sejumlah repertoar musik yang
konteksnya tidak jauh dari kategori musik ritual Batak. Biasanya ada
tujuh macam cara musikal yang dilakukan dalam ritual Batak. Namun
selesai pertunjukan, kami lebih terfokus membicarakan seputar
Sigale-gale sendiri. Terkait dengan pembuatannya, patung Sigale-gale
diliputi oleh cerita yang mistis atau seram. Bila seseorang sudah
bersedia membuat patung Sigale-gale, berarti ia sudah pasti menjadi
tumbal. Setelah menyelesaikan sebuah patung, si pembuat akan segera
meninggal. Mungkin kepercayaan ini pulalah yang membuat patung
Sigale-gale menjadi ekslusif dan tidak pernah dibuat banyak-banyak.
Berdasarkan kejadian-kejadian itu, proses pembuatan Sigale-gale kemudian
dilakukan oleh lebih dari satu orang. Ada yang khusus mengerjakan
pembuatan tangan, tungkai kaki, bagian badan, dan kepala. Mungkin secara
bersama juga tali-tali dan kerandanya yang berukiran Batak
diselesaikan. Jumlah tali-tali pada setiap patung yang dibuat tidak
selalu serupa.
Pada dua unit Sigale-gale tadi, salah satunya mempunyai
tali penarik 17 ruas. Dulu tali-tali tersebut katanya sama sekali tidak
ada. Gerakan patung berlangsung hanya dengan kekuatan gaib yang
dimiliki dalangnya. Patung yang dihidupkan demi kekuatan gaib dalam
tradisi Batak disebut dengan gana-ganaan dan dia dapat menyerupai
totem. Seorang pembuat patung Sigale-gale dulunya dikenal dengan
sebutan Datu Panggana, karena didorong oleh suatu kekuatan gaib juga.
Bahan yang digunakan untuk patung Sigale-gale biasanya dari sejenis
pohon bernama ingul dan pohon nangka. Pohon nangka khusus digunakan
untuk bagian tangan dan kepala. Sedangkan pohon ingul untuk bagian
badan dan kaki. Kayu ini termasuk jenis kayu yang bermutu dan sering
digunakan membuat perahu. Tidak ada makna simbolis dengan pilihan atas
kedua kayu itu. Pengerjaan satu patung Sigale-gale dapat memakan waktu
satu tahun. Asal Mula Sigale-gale Selesai pengerjaan patung
Sigale-gale, para pembuat atau pemesannya tidak boleh menempatkan serta
menyimpannya di dalam rumah. Ada tempat khusus untuk menyimpan patung
Sigale-gale zaman dahulu. Namanya disebut sopo balian, sebuah
rumah-rumahan di tengah sawah. Tersebutlah seorang raja yang kaya
bernama Tuan Rahat. Ia mempunyai seorang anak laki-laki bernama Si
Manggale. Anaknya tersebut diharapkan segera mendapat jodoh. Namun
setiap perempuan yang disukainya selalu tak mau mendampinginya. Suatu
ketika, sang raja turut mengirim anaknya berperang dalam rangka
meluaskan wilayah kerajaan. Anak itu ternyata mangkat pula di medan
perang.
Untuk mengenang anaknya, sang raja memesan sebuah patung
dibuatkan mirip sang anak, dan sehidup mungkin. Patung tersebut
kemudian dinamainya Sigale-gale. Namun sang raja memesankan agar patung
tersebut ditempatkan saja agak jauh dari rumah, yakni di sopo balian.
Nanti, pada saat upacara kematiannya, patung itu dapat dijemput untuk
menari di samping jenazahnya. Jadi pertunjukan Sigale-gale dulunya
diadakan hanya kepada seorang raja yang kehilangan keturunan. Tapi
kemudian, kebiasaan raja itu diperluas kepada setiap orang yang tidak
punya keturunan. Setiap orang yang sengaja memesankan patung
Sigale-gale untuk alasan itu disebut dengan papurpur sapata (menaburkan
janji). Ketika kematian sudah tak terelakkan, Sigale-gale dengan
tariannya menjadi semacam pengobat impian yang pernah kandas bagi
orang-orang yang tidak mempunyai keturunan sampai pada upacara
kematiannya. Tapi ada versi lain tentang cerita Sigale-gale. Konon,
seorang dukun bernama Datu Partaoar, ingin sekali mempunyai anak
laki-laki atau perempuan. Suatu ketika dia menemukan sebuah patung
cantik di tengah hutan, persis seperti seorang gadis yang tubuhnya
terlilit kain dan beranting-anting. Dia kemudian membawa gadis itu
setelah mengubahnya dari patung menjadi manusia. Istrinya yang juga
berharap-harap selama ini untuk mempunyai keturunan memberi nama gadis
itu dengan nama Nai Manggale.
Dia menjadi gadis yang disenangi penduduk
karena kelembutannya. Suatu ketika dia harus mendapatkan pendamping
hidup. Namun seperti ibunya, ia tidak dapat melahirkan keturunan secara
biologis. Dia pun berkata kepada suaminya yang bernama Datu Partiktik
agar memesan pematung untuk membuatkan sebuah patung yang bisa menari di
samping jenazahnya suatu ketika. Patung tersebut dinamai Sigale-gale.
Berdasarkan versi itulah kiranya tarian Sigale-gale pernah ditemukan
dengan pasangan laki-laki dan perempuan. Sigale-gale secara etimologis
dapat berarti “yang lemah gemulai”. Demikianlah sebenarnya kesan melihat
tarian boneka Sigale-gale. Entah mungkin juga mereka kembar. Yang
laki-laki namanya si Manggale dan perempuan bernama Nai Manggale.
sumber : http://www.facebook.com/note.php?note_id=138394406244871