Rabu, 07 September 2011

Legenda (Batak) Si GALE-GALE

Si Gale-Gale

Pertunjukan tarian boneka Sigale-gale sudah sangat langka. Jumlah boneka Sigale-gale pun konon tinggal beberapa saja. Tidak gampang membuatnya. Ada kepercayaan di masyarakat Batak bahwa pembuat boneka Sigale-gale harus menyerahkan jiwanya pada boneka kayu buatannya itu agar si boneka bisa bergerak seperti hidup. Bagaimana pertunjukan mistis ini bisa sampai melekat dalam masyarakat Batak? Untunglah sampai hari ini Sigale-gale belum punah sama sekali. Masih ada beberapa sisa patung yang dipahat puluhan tahun silam. Kita masih bisa menyaksikan sisa-sisa kemunculannya meski sangat jarang.

Jika mau menonton langsung pertunjukan tradisional dari Tanah Batak itu, pergilah ke Samosir. Kabarnya ada empat tempat yang dapat mempertontonkannya di sana. Dua di antaranya yang mudah dijangkau adalah tempat wisata Tomok dan Museum Hutabolon Simanindo. Pengunjung dapat memesan langsung pertunjukan Sigale-gale dengan bayaran tertentu. Pengunjung yang ingin menontonnya pun tidak dibatasi dari jumlah dan usia. Terkadang dua tiga orang yang tertarik, seperti turis mancanegara, dapat meminta kepada pengusaha pertunjukan untuk segera memainkannya dengan iringan musikal gondang Batak dan delapan sampai sepuluh penari pengiringnya. Rombongan anak-anak sekolah pun sering berkunjung ke Samosir untuk menyaksikan Sigale-gale dalam durasi tertentu dari pilihan-pilihan repertoar musiknya. Repertoar di dua tempat tersebut dapat membosankan jika melebihi satu jam. Apalagi sekarang musik pengiringnya sudah sering menggunakan rekaman kaset audio (playback).

Suasana pertunjukan tarian boneka Sigale-gale memang sangat menarik dan menghibur. Bayangkan, sebuah boneka yang terbuat dari kayu dapat menari seperti manusia. Kelihatannya memang seperti manusia jika semakin diperhatikan. Boneka yang tingginya mencapai satu setengah meter tersebut diberi kostum tradisonal Batak. Bahkan semua gerak-geriknya yang muncul selama pertunjukan menciptakan kesan-kesan dari contoh model manusia. Kepalanya bisa diputar ke samping kanan dan kiri, mata dan lidahnya dapat bergerak, kedua tangan bergerak seperti tangan-tangan manusia yang menari serta dapat menurunkan badannya lebih rendah seperti jongkok waktu menari. Padahal semua gerakan itu hanya di atas peti mati, tempat disimpannya boneka Sigale-gale seusai dipajang atau dimainkan. Kenapa itu bisa terjadi? Tentu dua tiga orang dalangnya ada di belakang dengan menarik jalur-jalur tali secara anatomis. Dalang Legendaris Dulu, Sigale-gale sempat dimainkan hanya oleh satu orang dalang. Dalang terakhir yang terkenal adalah Raja Gayus Rumahorbo dari kampung Garoga, Tomok. Beliau pernah tampil pada festival Sigale-gale di Pematang Siantar (Simalungun) pada tahun 1930-an. Malahan, kabarnya Sigale-gale yang dimainkannya waktu itu adalah hasil buatannya sendiri. Raja Gayus dikenal mampu membuat Sigale-gale mengeluarkan airmata dan punya kemampuan mengusapkan ulos (kain tenunan Batak) yang disandangkan sebelumnya di bahu sang boneka kayu. Airmata yang keluar tentu saja air yang mengalir dari bagian kepala Sigale-gale yang dilubangi. Namun bagaimana teknis mengeluarkannya masih sulit dibayangkan, karena biasanya diisi dengan kain lap basah atau wadah kecil yang muat di bagian yang berlubang itu.

Pewaris Raja Gayus Rumahorbo mengatakan, Sigale-gale yang dimainkan pada festival itu kini berada di Belanda. Satu boneka lagi, masih menurut pewarisnya, terdapat di Jakarta. Memang Museum Nasional di bagian khusus kebudayaan Batak pernah diinformasikan menyimpan patung Sigale-gale. Rayani Sriwidodo Lubis melahirkan sebuah buku ceritanya berjudul Sigale-gale (PT Dunia Pustaka Jaya, 1982) diperkirakan mendapat inspirasi setelah melihat patung yang ada di museum itu. Mistik di Balik Pembuatan Sigale-gale Kisah pembuatan patung Sigale-gale masih lestari di kampung Garoga. Kampung ini berjarak sekitar tiga kilometer dari Tomok, dan naik ke arah kiri yang dibentengi pegunungan Samosir. Gunung sekitar itu dikenal dengan nama Naboratan yang dapat berarti “sangat berat”. Ada satu air terjun, yang dalam bahasa setempat disebut dengan nama Sampuran Simangande. Air terjun yang konon menyimpan batu-batuan aneh dan posisi gunung seperti tembok yang sangat tinggi itu sempat menambahi kesan lebih jauh tentang kampung yang dikenal masih menyimpan patung Sigale-gale itu. Ternyata suasana alam yang melatarbelakangi kampung Garoga sama sekali tidak ada kaitannya dengan munculnya patung Sigale-gale. Setidaknya dalam kaitan bahan-bahan seperti kayu dan upacara tertentu untuk patung Sigale-gale.

Kampung Garoga juga tak bisa dipastikan sebagai setting cerita Sigale-gale. Kampung ini hanyalah salah satu kampung selain kampung Siallagan atau Ambarita. Malahan informasi tentang sebuah patung Sigale-gale pernah ada dari sekitar Silimbat Porsea. Hari itu, di teras sebuah rumah yang berarsitek modern, kami diperlihatkan pada dua unit Sigale-gale yang sudah berumur 30 dan 70 tahun. Salah seorang keturunan Raja Gayus menyambut kedatangan kami dengan minuman tradisional tuak dan natinombur (ikan panggang dengan racikan sambal khas Batak). Beberapa orang pemusik sudah siap-siap di posisi belakang terletaknya kedua Sigale-gale itu dengan instrumen selengkapnya. Sekitar setengah jam mereka memainkan sejumlah repertoar musik yang konteksnya tidak jauh dari kategori musik ritual Batak. Biasanya ada tujuh macam cara musikal yang dilakukan dalam ritual Batak. Namun selesai pertunjukan, kami lebih terfokus membicarakan seputar Sigale-gale sendiri. Terkait dengan pembuatannya, patung Sigale-gale diliputi oleh cerita yang mistis atau seram. Bila seseorang sudah bersedia membuat patung Sigale-gale, berarti ia sudah pasti menjadi tumbal. Setelah menyelesaikan sebuah patung, si pembuat akan segera meninggal. Mungkin kepercayaan ini pulalah yang membuat patung Sigale-gale menjadi ekslusif dan tidak pernah dibuat banyak-banyak. Berdasarkan kejadian-kejadian itu, proses pembuatan Sigale-gale kemudian dilakukan oleh lebih dari satu orang. Ada yang khusus mengerjakan pembuatan tangan, tungkai kaki, bagian badan, dan kepala. Mungkin secara bersama juga tali-tali dan kerandanya yang berukiran Batak diselesaikan. Jumlah tali-tali pada setiap patung yang dibuat tidak selalu serupa.

Pada dua unit Sigale-gale tadi, salah satunya mempunyai tali penarik 17 ruas. Dulu tali-tali tersebut katanya sama sekali tidak ada. Gerakan patung berlangsung hanya dengan kekuatan gaib yang dimiliki dalangnya. Patung yang dihidupkan demi kekuatan gaib dalam tradisi Batak disebut dengan gana-ganaan dan dia dapat menyerupai totem. Seorang pembuat patung Sigale-gale dulunya dikenal dengan sebutan Datu Panggana, karena didorong oleh suatu kekuatan gaib juga. Bahan yang digunakan untuk patung Sigale-gale biasanya dari sejenis pohon bernama ingul dan pohon nangka. Pohon nangka khusus digunakan untuk bagian tangan dan kepala. Sedangkan pohon ingul untuk bagian badan dan kaki. Kayu ini termasuk jenis kayu yang bermutu dan sering digunakan membuat perahu. Tidak ada makna simbolis dengan pilihan atas kedua kayu itu. Pengerjaan satu patung Sigale-gale dapat memakan waktu satu tahun. Asal Mula Sigale-gale Selesai pengerjaan patung Sigale-gale, para pembuat atau pemesannya tidak boleh menempatkan serta menyimpannya di dalam rumah. Ada tempat khusus untuk menyimpan patung Sigale-gale zaman dahulu. Namanya disebut sopo balian, sebuah rumah-rumahan di tengah sawah. Tersebutlah seorang raja yang kaya bernama Tuan Rahat. Ia mempunyai seorang anak laki-laki bernama Si Manggale. Anaknya tersebut diharapkan segera mendapat jodoh. Namun setiap perempuan yang disukainya selalu tak mau mendampinginya. Suatu ketika, sang raja turut mengirim anaknya berperang dalam rangka meluaskan wilayah kerajaan. Anak itu ternyata mangkat pula di medan perang.

Untuk mengenang anaknya, sang raja memesan sebuah patung dibuatkan mirip sang anak, dan sehidup mungkin. Patung tersebut kemudian dinamainya Sigale-gale. Namun sang raja memesankan agar patung tersebut ditempatkan saja agak jauh dari rumah, yakni di sopo balian. Nanti, pada saat upacara kematiannya, patung itu dapat dijemput untuk menari di samping jenazahnya. Jadi pertunjukan Sigale-gale dulunya diadakan hanya kepada seorang raja yang kehilangan keturunan. Tapi kemudian, kebiasaan raja itu diperluas kepada setiap orang yang tidak punya keturunan. Setiap orang yang sengaja memesankan patung Sigale-gale untuk alasan itu disebut dengan papurpur sapata (menaburkan janji). Ketika kematian sudah tak terelakkan, Sigale-gale dengan tariannya menjadi semacam pengobat impian yang pernah kandas bagi orang-orang yang tidak mempunyai keturunan sampai pada upacara kematiannya. Tapi ada versi lain tentang cerita Sigale-gale. Konon, seorang dukun bernama Datu Partaoar, ingin sekali mempunyai anak laki-laki atau perempuan. Suatu ketika dia menemukan sebuah patung cantik di tengah hutan, persis seperti seorang gadis yang tubuhnya terlilit kain dan beranting-anting. Dia kemudian membawa gadis itu setelah mengubahnya dari patung menjadi manusia. Istrinya yang juga berharap-harap selama ini untuk mempunyai keturunan memberi nama gadis itu dengan nama Nai Manggale.

Dia menjadi gadis yang disenangi penduduk karena kelembutannya. Suatu ketika dia harus mendapatkan pendamping hidup. Namun seperti ibunya, ia tidak dapat melahirkan keturunan secara biologis. Dia pun berkata kepada suaminya yang bernama Datu Partiktik agar memesan pematung untuk membuatkan sebuah patung yang bisa menari di samping jenazahnya suatu ketika. Patung tersebut dinamai Sigale-gale. Berdasarkan versi itulah kiranya tarian Sigale-gale pernah ditemukan dengan pasangan laki-laki dan perempuan. Sigale-gale secara etimologis dapat berarti “yang lemah gemulai”. Demikianlah sebenarnya kesan melihat tarian boneka Sigale-gale. Entah mungkin juga mereka kembar. Yang laki-laki namanya si Manggale dan perempuan bernama Nai Manggale.

sumber : http://www.facebook.com/note.php?note_id=138394406244871

PROSESI PERNIKAHAN ADAT BUDAYA BATAK DAN UMPASANYA


Pernikahan Adat Batak




Dalam Budaya Batak kental sekali dengan Adat Istiadatnya. Berdasarkan pada Dalihan Na Tolu. Bila Orang Batak mengadakan suatu acara baik acara ucapan Syukur, Kematian, Menempati Rumah Baru, Mangapuli, Pernikahan, Kelahiran Anak dan lain-lain selalu diadakan acara adat, merupakan budaya yang tujuannya adalah positif dan menjauhkan hal-hal yang negatif dan banyak tujuan lainnya tergantung dan sesuai dengan acara yang dilakukan. Salah satunya adalah Adat Pernikahan. Adapun langkah-langkah yang harus dilakukan adalah sebagai berikut :



1. Mangarisika
2. Marhori-hori Dinding/marhusip
3. Marhata Sinamot
4. Pudun Sauta..
5. Martumpol
6. Martonggo Raja atau Maria Raja.
7. Manjalo Pasu-pasu Parbagason (Pemberkatan Pernikahan)
8. Pesta Unjuk (lihat detail)
9. Mangihut di ampang
10. Ditaruhon Jual.
11. Paranak makan bersama di tempat kediaman si Pria (Daulat ni si Panganon)
12. Paulak Unea..
13. Manjahea.
14. Maningkir Tangga

Penjelasan :

‎1. Mangarisika
Adalah kunjungan utusan pria yang tidak resmi ke tempat wanita dalam rangka penjajakan. Jika pintu terbuka untuk mengadakan peminangan maka pihak orang tua pria memberikan tanda mau (tanda holong dan pihak wanita memberi tanda mata). Jenis barang-barang pemberian itu dapat berupa kain, cincin emas, dan lain-lain.

2. Marhori-hori Dinding/marhusip
Pembicaraan antara kedua belah pihak yang melamar dan yang dilamar, terbatas dalam hubungan kerabat terdekat dan belum diketahui oleh umum.

3. Marhata Sinamot
Pihak kerabat pria (dalam jumlah yang terbatas) datang oada kerabat wanita untuk melakukan marhata sinamot, membicarakan masalah uang jujur (tuhor).

4. Pudun Sauta
Pihak kerabat pria tanpa hula-hula mengantarkan wadah sumpit berisi nasi dan lauk pauknya (ternak yang sudah disembelih) yang diterima oleh pihak parboru dan setelah makan bersama dilanjutkan dengan pembagian Jambar Juhut (daging) kepada anggota kerabat, yang terdiri dari :

Kerabat marga ibu (hula-hula)
Kerabat marga ayah (dongan tubu)
Anggota marga menantu (boru)
Pengetuai (orang-orang tua)/pariban
Diakhir kegiatan Pudun Saut maka pihak keluarga wanita dan pria bersepakat menentukan waktu
Martumpol dan Pamasu-masuon.


5. Martumpol
Penanda-tanganan persetujuan pernikahan oleh orang tua kedua belah pihak atas rencana perkawinan anak-anak mereka dihadapan pejabat gereja. Tata cara Partumpolon dilaksanakan oleh pejabat gereja sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Tindak lanjut Partumpolon adalah pejabat gereja mewartakan rencana pernikahan dari kedua mempelai melalui warta jemaat, yang di HKBP disebut dengan Tingting (baca : tikting). Tingting ini harus dilakukan dua kali hari minggu berturut-turut. Apabila setelah dua kali tingting tidak ada gugatan dari pihak lain baru dapat dilanjutkan dengan pemberkatan nikah (pamasu-masuon).

6. Martonggo Raja atau Maria Raja
Adalah suatu kegiatan pra pesta/acara yang bersifat seremonial yang mutlak diselenggarakan oleh penyelenggara pesta/acara yang bertujuan untuk :

Mempersiapkan kepentingan pesta/acara yang bersifat teknis dan non teknis.
Pemberitahuan pada masyarakat bahwa pada waktu yang telah ditentukan ada pesta/acara pernikahan dan berkenaan dengan itu agar pihak lain tidak mengadakan pesta/acara dalam waktu yang bersamaan. Memohon izin pada masyarakat sekitar terutama dongan sahuta atau penggunaan fasilitas umum pada pesta yang telah direncanakan.

7. Manjalo Pasu-pasu Parbagason (Pemberkatan Pernikahan)
Pengesahan pernikahan kedua mempelai menurut tatacara gereja (pemberkatan pernikahan oleh pejabat gereja). Setelah pemberkatan pernikahan selesai maka kedua mempelai sudah sah sebagai suami-istri menurut gereja. Setelah selesai seluruh acara pamasu-masuon, kedua belah pihak yang turut serta dalam acara pamasu-masuon maupun yang tidak pergi menuju tempat kediaman orang tua/kerabat orang tua wanita untuk mengadakan pesta unjuk. Pesta unjuk oleh kerabat pria disebut Pesta Mangalap parumaen (baca : parmaen)
8. Pesta Unjuk
Suatu acara perayaan yang bersifat sukacita atas pernikahan putra dan putri. Ciri pesta sukacita ialah berbagi jambar :
Jambar yang dibagi-bagikan untuk kerabat parboru adalah jambar juhut (daging) dan jambar uang (tuhor ni boru) dibagi menurut peraturan. Jambar yang dibagi-bagikan bagi kerabat paranak adalah dengke (baca : dekke) dan ulos yang dibagi menurut peraturan. Pesta Unjuk ini diakhiri dengan membawa pulang pengantin ke rumah paranak.

9. Mangihut di ampang (dialap jual)
Yaitu mempelai wanita dibawa ke tempat mempelai pria yang dielu-elukan kerabat pria dengan mengiringi jual berisi makanan bertutup ulos yang disediakan oleh pihak kerabat pria.

10. Ditaruhon Jual
Jika pesta untuk pernikahan itu dilakukan di rumah mempelai pria, maka mempelai wanita dibolehkan pulang ke tempat orang tuanya untuk kemudian diantar lagi oleh para namborunya ke tempat namborunya. Dalam hal ini paranak wajib memberikan upa manaru (upah mengantar), sedang dalam dialap jual upa manaru tidak dikenal.

11. Paranak makan bersama di tempat kediaman si Pria (Daulat ni si Panganon)

Setibanya pengantin wanita beserta rombongan di rumah pengantin pria, maka diadakanlah acara makan bersama dengan seluruh undangan yang masih berkenan ikut ke rumah pengantin pria.
Makanan yang dimakan adalah makanan yang dibawa oleh pihak parboru


12. Paulak Unea
Setelah satu, tiga, lima atau tujuh hari si wanita tinggal bersama dengan suaminya, maka paranak, minimum pengantin pria bersama istrinya pergi ke rumah mertuanya untuk menyatakan terima kasih atas berjalannya acara pernikahan dengan baik, terutama keadaan baik pengantin wanita pada masa gadisnya (acara ini lebih bersifat aspek hukum berkaitan dengan kesucian si wanita sampai ia masuk di dalam pernikahan).
Setelah selesai acara paulak une, paranak kembali ke kampung halamannya/rumahnya dan selanjutnya memulai hidup baru.


13. Manjahea.
Setelah beberapa lama pengantin pria dan wanita menjalani hidup berumah tangga (kalau pria tersebut bukan anak bungsu), maka ia akan dipajae, yaitu dipisah rumah (tempat tinggal) dan mata pencarian.

14. Maningkir Tangga
Beberapa lama setelah pengantin pria dan wanita berumah tangga terutama setelah berdiri sendiri (rumah dan mata pencariannya telah dipisah dari orang tua si laki-laki) maka datanglah berkunjung parboru kepada paranak dengan maksud maningkir tangga (yang dimaksud dengan tangga disini adalah rumah tangga pengantin baru). Dalam kunjungan ini parboru juga membawa makanan (nasi dan lauk pauk, dengke sitio tio dan dengke simundur-mundur)

UMPASA ADAT PERNIKAHAN

Ulos Hela DiPamasu-Masuon
Di na mangulosi didokma umpasa, ima mangido tu Debata denggan ni ngolu dohot tondi, hasadaon sahat tu na mate. Tingki mangulosi didokma :


Napuran di bagas tagan
Ulos di bagas tondi
Hami mangulosi badan
Debata mangulosi tondi


Pihak parboru/hula-hula mangulosi huhut mandok umpasa, asa jadi keluarga bahagia, tubuan anak tubuan boru jala tetap sada sadhat tu na saur matua.


Di ginjang do arirang
Di toru panggaruan
Unang di hatai sirang
Molo dung marhajabuan


Boras sipirni tondi
Binuat sian piring
Debata ma na manggohi
Tuhan Jesus ma mangiring-iring


Binahen pe umpasa
Nidok pasu-pasuan
Tangiang mai tu Debata
Asa denggan hamu di hangoluan

Pribadi na beda
Pinadomu gabe sada
SAling setia porlu dijaga
Asa denggan di ruma tangga


pasu-pasuan dihatahon marhita umpasa :
Ima pangelehan tu Debata
jong-jong rumah ijuk
Mandompakhon rumah gorga
Sai tubu anak na bisuk
Dohot boru na malo marroha


Sahat-sahat ni solu
Sai sahat ma tu bottean
Sai sahat sude hita mangolu
Sai sahat ma hita tu panggabean, sahat tu parhorasan



sumber : http://www.facebook.com/note.php?note_id=136553353095643

Senin, 05 September 2011

Horong Marga-Marga Parna

SIMBOLON TUA


1. Simbolon Tuan Nahoda Raja
2. Tinambunan
3. Tumanggor
4. Pasi
5. Maharaja
6. Turuten
7. Pinayungan
8. Nahampun
9. Simbolon Altong Nabegu
10. Simbolon Pande Sahata
11. Simbolon Juara Bulan
12. Simbolon Suhut Ni Huta
13. Simbolon Rimbang
14. Simbolon Hapotan
15. Ginting Tumangger (Tumanggor di Karo)



TAMBA TUA


1. Tamba
2. Siallagan
3. Turnip
4. Sidabutar
5. Gusar (keturunan Sijabat - Padan Sitanggang)
6. Sijabat
7. Saragi Dajawak (Sijabat di Simalungun)
8. Ginting Jawak (Sijabat di Karo)
9. Siadari
10. Sidabalok
11. Rumahorbo
12. Napitu
13. Sitio
14. Sidauruk



SARAGI TUA


1. Simalango
2. Saing
3. Simarmata
4. Nadeak
5. Sumbayak
6. Sidabukke (sudah tidak mengikuti "punguan" parna karena sudah saling marsiolian)



MUNTHE TUA

1. Sitanggang bau
2. Sitanggang lipan
3. Sitanggang upar
4. Sitanggang silo
5. Manihuruk
6. Sigalingging
7. Garingging
8. Tendang
9. Banuarea
10. Boang Manalu
11. Bancin
12. Bringin
13. Gajah
14. Brasa
15. Manik Kecupak
16. Saraan
17. Kombih
18. Berampu
19. Munthe
20. Haro
21. Siambaton
22. Saragi Damunte
23. Dalimunthe
24. Ginting Baho,
25. Ginting Beras,
26. Ginting Capa,
27. Ginting Guru Putih,
28. Ginting Jadibata,
29. Ginting Manik,
30. Ginting Munthe,
31. Ginting Pase,
32. Ginting Sinisuka,
33. Ginting Sugihen,

* Namun ini masih membutuhkan penyempurnaan yang lebih lagi terutama marga Ginting yang belum seluruhnya diketahui dari horong mana saja.